TAUSHIYAH MIHRAB QOLBI #Seri2
TAUSHIYAH MIHRAB QOLBI #Seri2
KH. RAFIUDIN SADAKAN
Pimpinan Pesantren Daruttasbih Ar-Rafi & Pembimbing
Manajemen Mihrab Qolbi
MIHRAB QOLBI & PERJALANAN MENUJU QALBUN SALIM
(Sesuai kisah nyata yang disampaikan di seri pertama)..Sang
ibu itu tergopoh datang membawa bayinya yang masih berusia tiga hari, tentu
awalnya saya bingung.
Saya bertanya:
“Mbak, ini anak siapa?”
Beliau menjawab bahwa bayi itu adalah anaknya dan kemudian
menceritakan seluruh kisah perjalanan hidupnya.
Beliau datang karena sebuah amanah.
Sebuah mimpi.
Dan dalam mimpinya, beliau diperintahkan untuk menyerahkan
dan menitipkan anaknya kepada Kiai Rafiudin.
Saya kemudian memanggil keluarga dan berdiskusi.
Karena pada waktu itu anak yang baru lahir juga ada dalam
keluarga kami.
Saya berpikir:
“Bagaimana mungkin saya membesarkan bayi lagi?”
Awalnya saya katakan kepada beliau:
“Mbak, maaf. Saya belum tentu bisa menerima dan membesarkan anak ini.”
Akhirnya beliau pun pulang.
Namun baru beberapa menit setelah beliau pergi, saya tiba-tiba teringat wajah bayi itu.
Saya terdiam.
Kemudian saya meminta staf untuk memanggil kembali ibu dan
bayi tersebut.
Dan di situlah Allah menunjukkan sebuah kejadian yang sangat
menggetarkan hati kami.
RAHMAT ALLAH BISA DATANG DARI ARAH YANG TIDAK KITA DUGA
Saya kemudian mengingat sesuatu.
Enam bulan sebelumnya, istri saya pernah menyampaikan keinginan tentang seorang anak.
Kami pernah berbicara dan saya mengatakan:
“Kalau Allah menghendaki, mudah.”
“Tinggal langit diketuk, rahmat Allah akan turun.”
Subhanallah…
Siapa sangka, beberapa bulan kemudian datang seorang ibu membawa bayi laki-laki berusia tiga hari.
Datang ke pesantren.
Dengan membawa sebuah kisah.
Dengan membawa sebuah amanah.
Dan kami pun melihat:
Allah memiliki cara-Nya sendiri untuk mengirimkan rahmat.
Kadang kita tidak tahu bagaimana sebuah doa akan dijawab.
Kadang kita hanya mengucapkan sesuatu.
Kadang kita menyimpan harapan di dalam hati.
Namun ketika Allah menghendaki:
Rahmat itu datang.
Dari jalan yang tidak kita duga.
Dari arah yang tidak pernah kita perhitungkan.
INILAH PERJALANAN YANG AJAIB BERSAMA ALLAH
Kalau kita melihat perjalanan hidup ini, kita akan menyadari bahwa banyak kejadian yang sebenarnya tidak bisa dijelaskan hanya dengan logika.
Tetapi bisa kita pahami melalui iman.
Melalui tawakal.
Melalui keyakinan bahwa Allah memiliki kuasa atas segala sesuatu.
Dan karena itulah, perjalanan menuju Tanah Suci seharusnya
bukan hanya perjalanan fisik.
Bukan hanya perjalanan dari Indonesia menuju Makkah.
Tetapi perjalanan untuk menyaksikan:
Kebesaran Allah.
Pertolongan Allah.
Rahmat Allah.
Dan perubahan hati kita di hadapan Allah.
Inilah perjalanan bersama:
MIHRAB QOLBI
PERJALANAN SUCI MENUJU PERUBAHAN HATI
Dan insyaallah, perjalanan ini harus terus dilanjutkan.
Jangan khawatir.
Perjuangan ini akan terus berjalan.
Dengan seluruh jajaran Mihrab Qolbi.
Dengan seluruh keluarga besar dan cabang-cabang yang ada.
Karena sesungguhnya yang menjadi inti dari perjalanan ini bukan sekadar organisasi.
Bukan sekadar travel.
Tetapi:
PERJALANAN HATI MENUJU ALLAH.
MIHRAB QOLBI DALAM BAHASA AL-QUR’AN: QALBUN SALIM
Kalau kita bicara Mihrab Qolbi, sesungguhnya ada satu modal
utama yang harus kita miliki.
Yaitu:
قَلْبٌ سَلِيمٌ — QALBUN SALIM
Hati yang bersih.
Hati yang selamat.
Hati yang datang menghadap Allah dengan penuh ketulusan.
Dalam Al-Qur’an disebutkan
إِلَّا مَنْ أَتَى اللَّهَ
بِقَلْبٍ سَلِيمٍ
“Kecuali orang yang datang kepada
Allah dengan hati yang bersih.”
Inilah inti dari Mihrab Qolbi.
Orang yang sedang melakukan perjalanan menuju rida Allah.
Orang yang sedang berusaha membersihkan hati.
Orang yang sedang berusaha menjaga hati agar tetap selamat.
Tetapi masalahnya, Bapak dan Ibu…
Tantangan untuk menjaga hati hari ini semakin besar.
TANTANGAN TERBESAR HARI INI: KOTORNYA HATI KARENA MEMBICARAKAN AIB
Saya sejak kecil sangat senang belajar kepada guru-guru.
Saya pernah memiliki sebuah doa.
Ketika saya belajar kepada guru-guru hikmah, saya memohon
kepada Allah:
“Ya Allah, perlihatkan kepada saya keistimewaan para guru.”
“Perlihatkan kepada saya kebaikan mereka.”
“Perlihatkan kepada saya
amalan-amalan mulia mereka.”
Tetapi saya juga memohon:
“Ya Allah, jangan Engkau tunjukkan
kepada saya kekurangan dan aib guru-guru saya.”
Kenapa?
Karena saya takut.
Takut hati ini rusak.
Takut perjalanan spiritual yang telah dibangun bertahun-tahun menjadi hancur hanya karena hati mulai sibuk melihat kekurangan orang lain.
Hari ini, tantangannya semakin besar.
Kita hidup di zaman:
YouTube.
TikTok.
Facebook.
Media sosial.
Di mana orang begitu mudah:
Saling menghujat.
Saling membuka aib.
Saling membicarakan kekurangan.
Bahkan yang menjadi sasaran bukan sembarang orang.
Tetapi:
Kiai.
Habib.
Ulama.
Guru-guru.
Astaghfirullahaladzim.
Inilah salah satu tantangan besar kita hari ini.
Bagaimana kita bisa menjaga hati?
Bagaimana kita bisa menjaga Qalbun Salim?
Kalau setiap hari hati kita disuguhi dengan:
Aib orang lain.
Kekurangan saudara kita.
Hinaan kepada para ulama.
Fitnah.
Buruk sangka.
Jangan sampai akhirnya para ulama dan guru-guru kita hanya menjadi:
Sarapan pagi.
Makan siang.
Makan malam.
Dalam bentuk pembicaraan dan pergunjingan.
Padahal ilmu yang selama bertahun-tahun kita perjuangkan untuk amalkan bisa rusak karena hati kita kotor.
ASTAGHFIRULLAH: OBAT BAGI HATI
Maka, banyak-banyaklah beristighfar.
أَسْتَغْفِرُ اللَّهَ الْعَظِيمَ
Karena kadang dosa itu bukan hanya berasal dari apa yang kita lakukan.
Tetapi juga dari apa yang kita:
Lihat.
Dengar.
Bicarakan.
Percayai tanpa tabayyun.
Simpan dalam hati sebagai kebencian.
Kita hidup di zaman ketika hati sangat mudah dikotori.
Maka tantangan kita bukan hanya menjaga pandangan.
Tetapi juga menjaga:
Apa yang masuk ke dalam hati.
KETIKA DITAWARI ILMU TERAWANGAN HATI, SAYA MEMILIH MENOLAK
Saya ingin berbagi satu pengalaman.
Sekitar tahun 2015, saya pernah bersama guru saya, almarhum
Kiai Muhammad Burhizawi.
Pada waktu itu berkumpul para murid beliau.
Banyak di antara mereka adalah para ulama dan kiai dari berbagai daerah.
Kemudian beliau menyampaikan bahwa sudah waktunya sebagian
murid diberikan sebuah ilmu untuk mengetahui keadaan orang lain.
Kurang lebih disebut sebagai:
Ilmu terawangan . Ilmu hati.
Saya kemudian justru berkata:
“Jangan, Kiai.”
“Saya tidak mau.”
Orang mungkin bertanya:
“Kenapa ada orang yang ditawari ilmu seperti itu malah menolak?”
Karena saya takut.
Saya takut jika saya mengetahui kekurangan orang lain.
Saya takut hati saya mulai sibuk melihat aib manusia.
Sejak kecil, doa saya adalah:
“Ya Allah, jangan Engkau
tunjukkan kekurangan guru-guru saya.”
Saya tidak ingin memiliki kemampuan yang justru membuat hati ini mudah berburuk sangka.
Saya tidak ingin mempunyai ilmu yang membuat saya sibuk
mencari:
Siapa yang salah.
Siapa yang kurang.
Siapa yang memiliki aib.
Karena kalau hati sudah masuk ke sana, kemudian setan dan iblis sangat mudah memperbesar semuanya.
JANGAN BERBURUK SANGKA
Maka pelajaran besar bagi kita adalah:
Jangan sampai kita memiliki keinginan untuk mencari-cari aib orang lain.
Jangan sampai kita senang mengetahui kekurangan orang lain.
Jangan sampai kita merasa puas ketika menemukan kelemahan
seorang guru.
Apalagi seorang ulama.
Apalagi orang-orang yang memiliki kedudukan mulia di sisi Allah.
Karena boleh jadi orang yang kita lihat kekurangannya,
ternyata jauh lebih dicintai Allah daripada diri kita.
Yang harus kita perjuangkan adalah:
Bagaimana hati kita tetap bersih.
Bagaimana kita menjaga husnuzan.
Bagaimana kita tidak mudah menghakimi.
Bagaimana kita tidak sibuk dengan aib orang lain.
Inilah perjuangan Mihrab Qolbi.
Karena Mihrab Qolbi adalah:
Perjalanan untuk menjaga hati.
Perjalanan untuk membersihkan hati.
Perjalanan untuk menghadapkan hati kepada Allah.
Perjalanan menuju Qalbun Salim.
POIN INTI
Rahmat Allah tidak selalu datang sesuai perhitungan kita
Kadang datang dari jalan yang paling tidak kita duga.
Tawakal berarti
menyerahkan hasil terbaik kepada Allah.
Setelah ikhtiar dilakukan, jangan memaksa Allah mengikuti keinginan kita.
Mihrab Qolbi adalah
perjalanan hati menuju Allah
Bukan sekadar perjalanan fisik menuju Tanah Suci.
Hati yang bersih, selamat, dan dijaga dari penyakit hati.
Jangan sibuk mencari dan membicarakan aib orang lain
Terlebih aib para guru, kiai, ulama, dan orang-orang saleh.
Istighfar adalah salah satu obat untuk menjaga kebersihan hati
Di tengah zaman yang penuh fitnah, pergunjingan, dan buruk sangka.
MIHRAB QOLBI: PERJALANAN SUCI MENUJU QALBUN SALIM
SOLUSI SEGALA MASALAH: SHALAT DAN SABAR
Bapak dan Ibu yang dirahmati Allah…
Setelah kita berbicara tentang tantangan menjaga hati di zaman sekarang, lalu apa solusinya?
Allah sudah memberikan jawabannya:
وَاسْتَعِينُوا
بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ
“Mohonlah pertolongan dengan sabar dan shalat.”
Wa-sta‘īnu bish-shabri wash-shalāh.
Kalau kita mempunyai masalah, maka selesaikan dengan:
Sabar dan shalat.
Kalau tubuh kita sakit, kita pergi berobat.
Ada penyakit tertentu, obatnya sederhana.
Tetapi ada penyakit tertentu yang membutuhkan obat khusus.
Ada obat yang bisa dibeli secara bebas.
Namun ada pula obat yang membutuhkan resep dari dokter.
Begitu pula dengan shalat-shalat sunnah.
Ada amalan yang umum dilakukan, seperti:
* Shalat Dhuha
* Shalat Tahajud
* Shalat Witir
* Shalat Tasbih
Namun ada persoalan-persoalan tertentu yang memerlukan kesungguhan dalam sholat hajat bermunajat kepada Allah.
Salah satunya adalah ketika kita ingin memohon:
RAHMAT ALLAH
Sebab sesungguhnya untuk membersihkan hati, kita sangat
membutuhkan rahmat dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.
HATI YANG LEMBUT ADALAH ANUGERAH
Dalam munajat, kita memohon:
“Ya Allah, saya shalat. Saya memohon rahmat-Mu, ya Allah.”
Setelah shalat, kita beristighfar.
Memohon ampun kepada Allah.
Karena istighfar adalah jalan untuk mendapatkan ampunan Allah.
Kemudian kita bershalawat kepada Nabi Muhammad ﷺ.
Karena shalawat adalah jalan untuk mengharapkan rahmat
Allah.
Lalu kita terus memohon:
Ya Allah…
Ya Rabbi…
Ya Allah…
Ya Rabbi…
Sampai hati kita menjadi lembut.
Karena kalau hati sudah lembut, insyaallah hati akan menjadi lapang.
Dan kalau hati sudah lapang, itulah salah satu modal terbesar untuk mendapatkan kebahagiaan:
Di dunia.
Dan di akhirat.
Subhanallah…
سُبْحَانَ
اللَّهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ وَلَا إِلَهَ
إِلَّا اللَّهُ وَاللَّهُ أَكْبَرُ
Berlanjut ke #Seri3
*Disarikan dari Taushiyah KH. Rafiudin, dalam pembukaan
kantor pusat Manajemen Mihrab Qolbi Travel;
https://www.youtube.com/watch?v=iO0N7JqWD9U


Abuss Alhalimi